23.12.16

Kota Bandung

Membicarakan Bandung sebagai salah satu tema yang dibahas di kelas, cukup penting bagi anak-anak agar dapat mengenal lebih dalam mengenai tempat tinggalnya. Anak-anak membahas tentang tempat, budaya, permainan tradisional, makanan, dan juga ciri khas kota Bandung.

Di akhir tema, kolaborasi karya besar menjadi hal menarik yang dibuat bersama-sama. Berkunjung ke Gedung Sate dan melihat seluruh bangunan gedung dari jarak agak jauh menjadi salah satu kegiatan pembuka cakrawala anak sebelum berkarya. Dan tentu saja menggambarkan kembali objek yang telah diamati adalah tahapan untuk berkarya.



Melihat Gedung Sate dari luar pagar.

Salah satu gambar Gedung Sate yang terpilih untuk dijadikan sebagai karya besar.

Selain Gedung Sate, bangunan yang dipilih untuk dijadikan sebagai karya besar adalah Gedung Merdeka dan Masjid Agung (Alun-alun Bandung). Bandung Tour on Bus (Bandros pun terpilih menjadi objek yang akan dibuat dalam karya besar. Proses pembuatan karya besar, membutuhkan waktu kira-kira 7-10 hari. Karya dilakukan secara bertahap, bergantian, dan dibuat dalam bentuk kolase yang digabungkan menjadi bentuk objek yang utuh.

Proses pembuatan karya Gedung Sate :

Sketsa dibuat di kertas yang dipotong-potong menyesuaikan bentuk Gedung Sate yang akan dibuat.


Setelah sketsa dibuat, gambar kemudian diwarnai sesuai dengan warna Gedung Sate.


Proses pembuatan Bandros :


 


Anak-anak secara bergantian menggambar dan mewarnai dengan cat.

Lalu, semua karya yang sudah dibuat ditempelkan di dinding. Dan, selamat datang di Kota Bandung!

Proses penempelan karya.


Selamat datang di Bandung...





22.12.16

DIY Big Book : Teman Favorit Natan

Masih ingat dengan kegiatan 'Teman Favorit' yang pernah kutuliskan sebelumnya di sini?

Dari kegiatan bersama anak-anak tersebut, aku dan beberapa teman membuat sendiri sebuah buku berukuran besar bertema pertemanan. Buku ini menceritakan tentang sifat-sifat baik seorang teman yang disukai. Aku membuatnya menjadi semacam cerita fabel dengan tokoh-tokoh cerita binatang-binatang hutan. Ceritanya yang sederhana dan pendek, diharapkan dapat mudah dimengerti oleh anak-anak ketika dibacakan. Dan bisa dibaca sendiri oleh anak-anak yang baru saja bisa membaca cerita.

Pembuatan buku ini diawali dengan membuat mindmap agar dapat mempermudah memetakan jalan cerita dan pembagian tokoh cerita. Sebagai seorang penulis cerita amatiran, aku membuat semuanya sesuai dengan versiku sendiri. Setelah membuat mindmap, kemudian dibuat plot ceritanya sebelum dituangkan langsung dalam kertas berukuran besar. Ilustrasi buku ini juga kubuat sendiri. Jadi harap dimaklumi jika kurang ekspresif dan sama sekali tidak seperti buku-buku anak lainnya.


Cover big book berjudul 'Teman Favorit Natan'
Natan adalah anak hutan. Anak yang tinggal di hutan bersama teman-teman binatangnya.

Halaman pertama : 
Ada seorang anak bernama Natan. Dia tinggal di dalam hutan dan memiliki banyak teman. Jerapah, gajah, dan kelinci hutan adalah teman favoritnya.

Halaman kedua :
Pada suatu hari, Natan sedang mengingat kebaikan teman-temannya. Ia ingat ketika Jeri si jerapah mengajaknya bermain.

Halaman ketiga :
Di hutan, Natan suka membuat mainan dari buah-buahan, ranting, dan daun kering. Gazi si gajah sering membantu Natan merapikan mainan.

Halaman keempat :
Dulu, Natan pernah mengejek Bitan si babi hutan yang berwarna hitam. "Hei, kamu hitam!" Bitan tidak suka dipanggil hitam.

Halaman kelima :
Kiki si kelinci mendengar Natan mengejek Bitan. Lalu Kiki berkata, "Panggil temanmu dengan nama yang disukainya."

Halaman keenam :
Natan akhirnya mengerti mengapa ia menyukai teman-temannyya. Jeri si jerapah suka mengajaknya bermain, Gazi si gajah sering membantunya merapikan mainan, dan Kiki si kelinci yang selalu mengingatkannya agar tidak mengejek temannya.




Buku cerita berukuran besar ini kemudian diujicobakan untuk dibaca di kelas. Anak-anak di kelasku cukup tertarik dan memberi apresiasi. Mereka berkata, "Bu Kika, itu siapa yang gambar? Bagus sekali." Apresiasi kecil tulus yang cukup membuatku bahagia.


Di sekolah, guru terkadang mengalami kesulitan untuk menemukan buku cerita yang tepat dengan kondisi kelas atau sesuai dengan tema yang ingin diangkat. Membuat buku cerita sendiri dapat menjadi salah satu solusinya. Membuat buku secara manual, membuat jalan cerita sendiri, menggabungkan cerita yang pernah ada, atau mengembangkan cerita yang pernah dibaca sebelumnya. Guru dapat berkolaborasi sesuai dengan minat dan kemampuannya untuk menggambar serta membuat alur ceritanya. Ilustrasi buku dapat dibuat dalam bentuk kolase, gambar dari potongan majalah, atau gambar yang dicetak.


Buku tentang geometri. Konsep dasar matematika.
Dibuat dengan kolase berbahan spon gliter berwarna-warni dan kertas berwarna.


Cerita karakter agar mau mendengarkan teman saat bercerita.
Gambar-gambar binatang dicetak dan ditambah dengan ilustrasi gambar.


Cerita teka-teki dan kalimat berima. Dibuat dengan berbagai bentuk kolase.

Bahan-bahan untuk membuat buku cerita ini bisa memanfaatkan bahan bekas. Yuk, coba membuat buku cerita sendiri ^^





21.12.16

Berbeda Itu Indah

Kegiatan di TKB, mengambil tema pertama ‘Aku Sayang Teman’. Anak-anak diajak untuk belajar mengenal dirinya, kelebihan serta kekurangan yang dimiliki diri serta teman-temannya agar dapat saling berkolaborasi. Kegiatan bercerita untuk membuka cakrawala anak mengenai kelebihan dan kekurangan diri salah satunya menggunakan buku ‘Modo Tak mau Menari’. Buku ini bercerita tentang Modo yang berpura-pura sakit gigi ketika semua temannya bermain dan menari bersama. Ternyata Modo tidak berkata jujur bahwa sebenarnya dirinya tidak bisa menari. Lalu semua teman-teman Modo membujuknya untuk mencoba menari, Modo ternyata tetap tidak bisa menari seperti teman-teman lainnya. Dan akhirnya, Modo pun berkata jujur bahwa dirinya tidak bisa menari dan takut jika teman-temannya tidak lagi mau bermain bersamanya. Setelah Modo berkata jujur, teman-temannya lebih memahami Modo. Ternyata, Modo lebih hebat saat bermain musik. Modo pun dapat berkolaborasi dengan teman-temannya yang hebat saat menari.

 
  
Dalam cerita ini, anak-anak mengambil pelajaran bahwa setiap orang pasti memiliki kemampuan serta ketidakmampuan yang berbeda. Namun hal tersebut tidak harus dibuat menjadi sama. Mungkin, perbedaan inilah yang akan membuat kolaborasi semakin menarik.
Lalu, anak-anak diajak merefleksikan diri dari cerita yang sudah mereka simak. Apa saja kelebihan serta kekurangan mereka masing-masing. Apa kekuatan mereka saat berkarya di sekolah. Anak-anak menuangkan pemikirannya dalam sebuah gambar.


Cheryl dan Gea mengungkapkan bahwa mereka hebat saat berkarya dalam bentuk lukisan. Mereka lebih merasa percaya diri saat diajak untuk membuat karya dengan menggambar.


Aaliya yang mengatakan bahwa ia memiliki kehebatan dalam berkarya dengan menggunakan media konstruktif block.

Selain mereka, ada juga anak-anak lain yang mengatakan bahwa dirinya hebat saat membuat karya dengan menggunakan barang bekas, membuat karya dengan melipat kertas, membuat bangunan dari permainan konstruktif, dan sebagainya. Lalu kehebatan yang berbeda ini dikolaborasikan dalam bentuk karya bersama. Anak-anak yang memiliki kehebatan berkarya dengan barang-barang bekas, melipat kertas, dan melukis kemudian berkolaborasi membuat karya bersama dalam ukuran yang cukup besar. Karya yang dibuat bertema tentang pertemanan sesuai dengan tema di sekolah.


Jingga dan Auzriel menjadi model lukisan dan tubuh mereka dicetak oleh teman-temannya di atas sebuah kertas berukuran besar.
  

Teman-teman mencetak tubuh Jingga dan Auzriel. Mereka pun menjaga agar tubuh serta pakaian Jingga dan Auzriel tidak terkena coretan spidol.

Anak-anak saling mengungkapkan idenya untuk memperkaya hasil karya bersama. Mereka memberi ide sesuai dengan minatnya dan saling bersinergi hingga di akhir kegiatan berkarya. Setelah karya tuntas, mereka pun merefleksi bersama mengenai perasaannya masing-masing. Dan mereka mengatakan bahwa kegiatan berkarya bersama tentunya sangat menyenangkan, setiap individu memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan saling menghargai ide satu dengan yang lainnya.


Hasil akhir karya yang dibuat bersama-sama.

  

Jingga dan Auzriel yang tubuhnya dicetak untuk membuat karya bersama.

Dalam membuat karya lukisan bersama ini, bahan-bahan yang digunakan cukup sederhana, yaitu :
  •  Kertas karton berukuran besar (cukup besar untuk mencetak tubuh anak).
  • 2    Berbagai barang bekas yang dapat dimanfaatkan, misalnya potongan kotak pasta gigi, tutup botol air mineral, berbagai potongan kertas bekas berwarna, potongan bentuk mulut atau mata dari majalah / katalog bekas.
  • 3  Cat untuk mewarnai kulit beserta kuasnya.
  • 4   Gunting dan lem yang cukup kuat.

Bagi anak-anak yang mengungkapkan kehebatan dirinya dalam berkarya konstruktif, guru pun memfasilitasi mereka untuk menuangkan idenya. Mereka pun harus saling berkolaborasi seperti teman-temannya yang berkarya membuat lukisan dan kolase dalam ukuran yang besar. Anak-anak yang merasa memiliki kehebatan saat berkarya dengan konstruktif, juga harus membuat karya bersama dalam ukuran yang cukup besar. Mereka harus berbagi peran dalam mengambil kepingan block dan menyusunnya.

  


Anak-anak saling bekerja sama dan mendiskusikan mengenai gerakan orang yang mereka buat dari permainan konstruktif. Dengan kemampuan yang mereka miliki masing-masing, tiap kelompok anak menghasilkan berbagai bentuk karya block yang unik. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini dapat dikondisikan dengan ketersediaan mainan yang ada di tiap sekolah. Alternatif alat main yang dapat digunakan adalah :

  •        Block kayu bisa yang berukuran besar atau kecil.
  •        Lego, Gigo, Lassy, dan sebagainya.
  •        Kotak / kardus bekas dalam berbagai ukuran. Misalnya kardus susu, pasta gigi,         biscuit, dan sebagainya.


Di akhir kegiatan bermain, anak-anak pun melakukan pembiasaan bertanggung jawab merapikan kembali permainan yang telah digunakan. Bahkan merapikannya hingga benar-benar tuntas.


Mengembangkan kegiatan bercerita karakter hingga dapat diaplikasikan dalam kegiatan bermain anak-anak di sekolah sangat perlu dilakukan. Sehingga kegiatan bercerita akan semakin bermakna bagi anak-anak terutama anak usia dini. Melakukan kolaborasi dalam bermain dan berkarya membuat cerita Modo yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan teman-temannya yang lain menjadi lebih bermakna. Bahwa perbedaan tidak perlu dibuat menjadi sama, berbeda itu indah, dan dapat menciptakan kolaborasi yang apik.


14.12.16

DIY : Garland a.k.a Flag Banner

Pernahkah terpikir untuk membuat hiasan pesta sendiri?

Beberapa tahun lalu, aku pernah datang menghadiri pesta ulang tahun anak usia 6 tahun. Di rumahnya hiasan pesta semuanya nyaris dibuat sendiri. Taman belakang rumah dihiasi garland berwarna-warni yang digunting sendiri oleh anak yang berulang tahun. Mungkin dia lembur selama seminggu demi perayaan ulang tahunnya tapi ini sesuatu yang menarik. Bahkan souvenir yang diberikan pada semua tamu yang datang adalah sebuah cangkir bergambar karya-karyanya. Tiap tamu mendapatkan gambar yang berbeda. Terbayang stok karyanya banyak sekali. Saat itu aku kemudian berpikir, karya anak yang dibuat akan lebih berharga jika dijadikan benda yang terpakai.

Aku kemudian mengadopsi ide garland atau flag banner ulang tahun pada karya yang dibuat anak-anak di kelas pada kegiatan choice time. Garland ini dibuat sebagai hiasan untuk kegiatan pameran karya yang mengundang para orangtua. Tema garland yang dibuat adalah binatang-binatang teman Elmer si Gajah Perca yang bukunya sudah diceritakan di kelas.
Aku hanya menyediakan kertas berbentuk segitiga dan beberapa barang bekas yang dapat dimanfaatkan untuk berkarya. Setiap anak boleh membuat kepala binatang apa pun.


Elmer si Gajah Perca yang menjadi salah satu inspirasi karya anak-anak.


Semua garland yang dibuat kemudian disusun pada seutas tali panjang dan digantungkan di jendela sebagai hiasan kelas. Ide ini juga bisa diadaptasi untuk hiasan pesta atau syukuran ulang tahun anak-anak yang diadakan di rumah. Karena karya yang berguna tentunya lebih berharga.





Ayo buat hiasan pestamu sendiri...