3.7.16

Belajar Dari Teman Favorit


Pendidikan budi pekerti atau kini seringkali disebut sebagai pendidikan karakter, sangat penting diterapkan sejak usia dini. Penting. Terdengar klise, karena semua jenis pendidikan memang terasa penting. Pendidikan karakter sewajarnya diawali di rumah sebagai lingkungan pertama bagi anak dan diselaraskan di sekolah. Tetapi, bagaimana anak-anak belajar mengenai budi pekerti yang baik dengan cara yang menyenangkan?

Saya mengajar di tingkat B taman kanak-kanak. Di kelas yang saya dampingi, pertemanan mulai menjadi hal yang sangat penting bagi anak-anak. Mereka mulai dapat menilai siapa teman yang asyik untuk diajak bergabung melakukan kegiatan bersama, dan siapa teman yang tidak termasuk dalam daftar pilihan. Mereka sudah dapat memilih.

Pilihan dan penilaian anak usia 5-6 tahun terhadap teman-temannya, kemudian saya telusuri. Saya melakukan wawancara kecil-kecilan terkait alasan-alasan mengapa mereka memilih dalam berteman. Ternyata anak-anak memiliki alasan yang cukup konkrit terkait perilaku teman-temannya. Mereka mampu menyebutkan satu demi satu sikap buruk yang tidak mereka harapkan dari temannya, namun muncul ketika mereka bermain bersama. Lalu saya pun bertanya pada mereka mengenai harapan-harapannya terhadap sikap teman. Harapan-harapan yang disebutkan adalah berupa sikap-sikap baik dan saya pikir, saya akan coba mengangkat sikap-sikap baik ini sebagai bahan belajar bersama anak-anak.

Menjelang akhir TKB, anak-anak diajak untuk menjaga hubungan baik dengan teman-teman sekelasnya. Karena ketika SD nanti, tidak semua akan bersekolah di sekolah yang sama atau berada di kelas yang sama. Tetapi ternyata masih ada anak yang menghindari beberapa teman dengan beberapa alasan konkritnya. Saya tidak akan membahas alasan konkrit itu, tapi sebaliknya.

Saya mengajak anak-anak memilih salah satu teman favoritnya. Pilihan tersebut harus disertai dengan penjelasan mengapa mereka memilih temannya sebagai yang terfavorit. Dan tentu saja, pilihan mereka adalah rahasia. Tidak ada anak yang boleh mengetahui teman favorit anak yang lain. Tidak ada yang bisa mempengaruhi pilihan teman favorit setiap anak. Setelah memilih satu teman favorit, anak-anak diajak untuk menggambarkan temannya di selembar kertas koran bekas. Koran bekas digunakan sebagai media untuk menggambar sekaligus mengajarkan pada anak-anak bahwa barang bekas pun dapat dimanfaatkan untuk berkarya.

Setelah semua anak selesai menggambarkan teman favoritnya, mereka secara bergiliran menceritakan gambarnya di hadapan teman-teman lainnya di depan kelas. Seraya bercerita, gambar yang dibuat ditunjukkan pada teman-teman, mereka menyebutkan nama teman favorit beserta sikap-sikap baik yang disukai. Semua anak dapat belajar dari pemaparan yang disampaikan oleh teman-temannya.

Salah satu gambar yang dibuat oleh seorang anak bernama Daania sangat detil. Hal ini secara langsung menunjukkan perhatiannya yang cukup besar terhadap teman favoritnya. Ia menggambarkan Zeeva sebagai teman favoritnya serta menceritakan alasannya.

Daania bercerita, “Aku suka main sama Zeeva. Soalnya Zeeva suka ngajak aku main, gak pernah marah-marah, gak pernah ngeledek, suka bantuin aku kalau beresin mainan.”


Zeeva yang digambarkan oleh Daania. Detilnya terlihat pada seragam, bando, dan model rambutnya.

Anak-anak lain kemudian bergiliran bercerita di hadapan teman-temannya. Beberapa alasan yang melatari mereka memilih temannya sebagai teman favorit berbeda-beda. Alasan-alasan yang berbeda itu kemudian saya tulskan di papan tulis sebagai rangkuman dari semua alasan yang diungkapkan. Sebagian besar anak-anak di kelas yang sudah mulai bisa membaca, dapat belajar dari sifat-sifat baik teman yang dituliskan di papan tulis.

Kegiatan tidak berakhir sampai di situ. Pengembangan budi pekerti dan karakter baik harus konsisten dilakukan dalam jangka waktu yang panjang dan terus menerus. Saat ada anak yang mengalami konflik dengan temannya, dilaporkan berperilaku kurang menyenangkan atau mengganggu teman, maka saya akan kembali membahas perilaku baik yang disukai oleh teman yang tertera di papan tulis. Anak-anak kembali diingatkan mengenai perilaku yang sebaiknya dimiliki oleh mereka jika ingin disukai oleh teman-temannya yang lain.

Dari kegiatan presentasi mengenai teman favorit, saya kemudian membuat cerita imajinasi tentang pertemanan berdasarkan hasil presentasi anak-anak di kelas sebelumnya. Cerita ini dibuat dengan membuat buku cerita secara manual (menggambar ilustraasi dan menuliskan sendiri ceritanya). Ide cerita dijabarkan terlebih dulu dalam bentuk mindmap, termasuk ide tokoh cerita yang akan ditampilkan.


Mindmap sederhana mengenai ide cerita buku.

Ide cerita yang diambil berdasarkan hasil presentasi anak-anak dituangkan dalam bentuk imajinasi. Misalnya tokoh utama adalah anak yang tinggal di dalam hutan. Teman yang suka mengajak bermain digambarkan sebagai Jerapah berleher tinggi yang menjadikan lehernya sebagai tempat bermain perosotan. Teman yang suka membantu digambarkan sebagai Gajah berbelalai panjang yang dapat meraih benda apapun untuk membantu tokoh utama merapikan mainannya. Teman yang tidak pernah marah-marah dan meledek digambarkan sebagai Kelinci Hutan pendiam yang selalu berbicara dengan kata-kata baik. Alur cerita dibuat sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak usia dini. Imajinasi hewan hutan yang dilibatkan dimaksudkan agar dapat menarik perhatian anak-anak dan agar lebih mudah masuk ke pemahaman mereka.


Buku cerita berukuran besar bigbook yang dibuat oleh guru secara manual berdasarkan kegiatan presentasi teman favorit pada kegiatan sebelumnya.


Belajar berperilaku baik, memiliki budi pekerti luhur, serta berkarakter bisa didapat dari teman-teman. Hal ini bisa dilakukan dalam kegiatan bercerita/presentasi pada anak-anak usia 5-6 tahun, usia ketika anak-anak mulai lebih lugas mengungkapkan pendapatnya.