7.9.15

Merencanakan Kehamilan

Sejak awal menikah, aku tidak banyak berinisiatif untuk belajar tentang kehamilan. Aku hanya sebatas memiliki pengetahuan dari pengalaman teman-teman dan orang-orang terdekat, tidak belajar mengenai bagaimana kehamilan yang baik. Sebelum menikah pun, aku belum pernah sama sekali datang ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan konsultasi mengenai kesehatan reproduksi. Padahal ternyata itu penting sekali sebagai bekal wanita yang sudah menikah untuk lebih mengetahui tentang tubuhnya sendiri dan sistem reproduksinya. Sekitar 4 bulan awal pernikahan, aku memang belum terlalu berharap langsung hamil, karena sewaktu pacaran LDR jadi aku dan suami berniat 'pacaran' dulu di awal pernikahan. 

Pada bulan kelima pernikahan, aku dan suami mulai merencanakan untuk mempunyai anak tapi hingga setahun pernikahan kami belum juga mendapat kabar baik. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti program hamil dari dokter spesialis kandungan. Aku mencari referensi dokter kandungan dengan sub spesialis konsultasi infertilitas dari teman-teman. Lalu diputuskan untuk menemui Prof. dr. Sofie Rifayani, Spog untuk melakukan konsultasi. Dokter dengan sub spesialis tentunya punya tarif yang lebih mahal dibandingkan dengan dokter spesialis biasa, tapi aku berpikir untuk usaha hamil tidak apa-apa bayar lebih. 

Bulan Oktober 2014, aku datang ke RSIA Hermina Pasteur di Bandung untuk bertemu dengan Prof. Sofie. Jika dilakukan pengelompokan berdasarkan tarif rumah sakit ibu dan anak di Bandung, RSIA Hermina masuk ke golongan menengah, tarifnya masih di bawah RS. Melinda di daerah Pajajaran dan RS. Limijati di jalan Riau (RE. Martadinata). Aku memilih RSIA Hermina karena jarak yang relatif lebih dekat dari rumah dan berdasarkan pengalaman adikku yang lebih dulu melakukan pemeriksaan kehamilan di sana.

Saat konsultasi, dokter pasti akan bertanya tentang usia pernikahan dan siklus menstruasi. Menurut dokter, siklus yang normal adalah berkisar 21-32 hari dan lamanya 4-7 hari. Rata-rata pasangan yang sudah menikah, sehat, dan normal, akan hamil dalam usia pernikahan tidak lebih dari setahun. Jika pasangan tersebut tidak menunda dan tidak memiliki kelainan dalam sistem reproduksinya. Saat akan melakukan konsultasi dan pemeriksaan untuk program hamil, sebaiknya istri datang saat menstruasi hari kedua. Dokter akan melakukan pemeriksaan transvaginal, yaitu pemeriksaan USG dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui vagina. Fungsinya untuk melihat sel telur, mengukur besarnya rahim, dan memperkirakan ketebalan dinding rahim. Saat itu Prof. Sofie sempat bertanya padaku, apakah aku punya keturunan sakit diabetes, dan ternyata hal itu mempunyai pengaruh terhadap siklus menstruasi yang tidak teratur sehingga agak sulit untuk menentukan masa subur. 

Alat USG transvaginal yang dimasukkan ke permukaan vagina.


Dokter sub spesialis infertilitas ternyata juga punya konsentrasi masalah yang berbeda-beda. Setelah konsultasi dengan Prof. Sofie, aku dirujuk menemui Dr. Tita Husnitawati, Spog untuk konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut. Bulan berikutnya di hari menstruasi kedua, aku menemui dr. Tita. Tarif konsultasi dan pemeriksaan antara prof. Sofie dan dr. Tita di rumah sakit yang sama memiliki perbedaan. Hal ini dipengaruhi gelar juga.

Pertanyaan yang diajukan oleh dr. Tita awalnya serupa dengan pertanyaan dari prof. Sofie. Berkisar tentang siklus menstruasi, lama menikah, dan masalah keputihan. Ternyata, keputihan yang berlebihan juga bisa menjadi salah satu penyebab kemandulan. Dr. Tita kemudian melakukan pemeriksaan transvaginal. Hasilnya ukuran dan ketebalan rahim baik, kondisi rahim pun bersih tidak ada benjolan atau kista. Kemudian, dr. Tita memberikan pengetahuan mengenai kehamilan serta penyebab-penyebab sulit hamil atau bahkan kemandulan. 

Penjelasan dr. Tita :
1. Saat menstruasi, sel telur akan terlihat berukuran kecil, setelah selesai sel telur akan membesar yang disebut dengan masa subur, sehingga sel sperma lebih mudah menembus sel telur yang besar.
2. Keputihan yang berlebihan, berbau, bahkan berubah warna menjadi kehijauan cukup berbahaya karena bisa menyebabkan perlengketan pada rahim dan menjalar hingga ke saluran tuba valopi.
3. Dokter menunjukkan gambar bentuk sel sperma yang sehat. Kepala sperma lonjong agak menajam di ujung dengan ukuran cukup dan memiliki ekor yang panjang untuk membantu berenang.


4. Suami dan istri yang ingin segera memiliki anak, sebaiknya berhubungan pada masa subur istri 2 hari sekali karena hal ini juga berkaitan dengan kematangan sel sperma. Namun tidak dibatasi untuk berhubungan di waktu yang bukan masa subur istri.

Setelah mendapatkan beberapa penjelasan dari dr. Tita, aku dan suami disarankan untuk melakukan serangkaian tes di laboratorium. Aku harus melakukan HSG dan suami diminta untuk cek sperma. Menurut dr. Tita, sebelum mendukung program hamil dengan asupan makanan, kita harus memastikan dulu tidak ada kelainan pada organ reproduksinya. Salah satu caranya dengan HSG, yaitu memasukkan cairan kontras yang ditembakkan melalui vagina lalu dilakukan USG untuk melihat pergerakan cairan tersebut di dalam rahim apakah cairan itu tersumbat atau mengalir lancar ke semua penjuru rahim. HSG juga dapat membersihkan rahim, jika ada perlengketan yang belum terlalu parah bisa terbuka dengan cairan HSG yang mengalir. 

HSG dilakukan di laboratorium, biayanya pun cukup mahal. Sekitar 700-800 ribu rupiah untuk sekali tindakan HSG. Untuk analisis sperma, biayanya 150 ribu rupiah. Tidak ada salahnya sebelum melakukan pemeriksaan, bandingkan harga setiap laboratorium dengan melakukan survey lewat telepon. Aku sudah melakukan survey harga dan menentukan jadwal dengan radiolog di laboratorium Pramitha cabang Moh. Toha Bandung. Namun saat itu, aku tidak bernyali dan membatalkan jadwal HSG. HSG harus dilakukan sekitar 12 hari setelah menstruasi hari pertama, biasanya dokter yang menentukan kapan harus dilakukan HSG dan kita yang membuat janji dengan radiolognya.

Pasca membatalkan jadwal untuk HSG dan mengumpulkan nyali hingga bulan selanjutnya, suamiku membuat strategi untuk menghemat biaya. Suamiku akan melakukan analisis sperma terlebih dulu, dan jika hasilnya kualitas spermanya tidak baik maka aku tidak perlu HSG. Tapi itu pun akhirnya batal dilakukan. Kami tanpa sengaja menemukan sebuah situs yang menjual buku tentang kehamilan dan langsung membelinya. 

Paket buku 'Cara Cepat Hamil' karya dr. Rosdiana Ramli, SpOG

Buku ini berisi pengetahuan mengenai organ reproduksi pria dan wanita, fungsi, serta cara perawatannya. Buku ini bagus dibaca agar kita tidak buta dengan tubuh sendiri. Tidak ada hal yang terlalu beda dengan buku pengetahuan lainnya, namun buku ini memberikan pandangan lebih positif terhadap proses kehamilan. Semua orang memiliki jangka waktu berhasil hamil yang berbeda-beda dan campur tangan Tuhan sangat besar di dalamnya. Selain buku, penulis juga memberikan bonus vitamin asam folat yang bisa dikonsumsi oleh suami dan istri setiap malam sebelum tidur, serta 2 pak alat tes kehamilan. Aku dan suami akhirnya rutin meminum asam folat ini setiap malam.

Kira-kira sebulan setelah aku dan suami rutin meminum asam folat. Akhirnya aku merasakan perubahan aneh. Badan rasanya seperti sering masuk angin, pusing, dan ingin makan banyak. Tapi karena aku seringkali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur, aku menunggu hingga telat datang bulan 2-3 minggu, baru melakukan tespack. Akhirnya pada 20 Januari 2015, aku melakukan tespack dan hasilnya positif.

Alhamdulillah...




Cerita tentang pemilihan dokter kandungan, pemeriksaan kandungan, memilih rumah sakit untuk bersalin, hingga belanja-belanja keperluan melahirkan, dilanjutkan di posting selanjutnya ya.... ;)

2 comments:

me.to.you said...

Wow detail sekali.. Dari mulai proses, cari rs, lab, program, sampai istilah kedokteran.

Pengen mulai ngecek2, tapi nyali memang mempengaruhi ya..

Terima kasih sudah berbagi pengalaman :)

Tria Yuliana said...

halo say saya mau tanya ok dr sofinya ngerekomendasi ke dr tita say