17.2.14

Membuat Sendiri Pojok Dramatisasi

Kelas Bumi adalah kelas yang didominasi dengan anak-anak yang cukup memiliki minat yang tinggi dalam permainan dramatisasi (bermain peran). Apapun mainannya, seringkali mereka ubah menjadi properti untuk bermain peran. Dari pengamatan itu, aku memiliki ide untuk membuat pojok tempat mereka bermain peran. Pojok ini dibuat ketika tema 'Ruang dan Waktu' yang cukup banyak membahas tentang Dinosaurus. Anak-anak diberikan peran untuk ikut dalam menciptakan pojok bermainnya. Pojok bermain ini mudah dibuat di rumah juga untuk tempat anak-anak berekspresi.

Pojok pertama :
Tempat bermain dramatisasi mikro dengan menggunakan miniatur.



Anak-anak dapat bermain dengan menggunakan miniatur yang sudah tersedia, tergantung dengan tema cerita yang akan diangkat. Suasana untuk mendukung bermain peran seperti tanah dan padang rumput dibuat dengan menggunakan plastik berukuran besar (plastik sampul buku) yang dicat, danau dibuat dari potongan kertas mengkilap yang diremas untuk membuat efek air bergelombang. Gunung berapi dibuat dari remasan kertas koran yang dibungkus dengan amplop coklat bekas membentuk gunung. Pohon-pohon dibuat dari karya cap tangan anak-anak, rumput dibuat dari robekan kertas bekas. Dan anak-anak kini bisa menggunakannya langsung untuk membuat ceritanya sendiri...

Pojok kedua :
Tempat bermain dramatisasi mikro dua dimensi sekaligus menjadi bentuk display karya.

Latar tempat tinggal dino dibuat secara bersama-sama dengan melukis. 



Dinosaurus dibuat oleh anak-anak berbentuk kolase dan dilengkapi dengan gambar. Karya ini kemudian dilaminating dan bisa ditempelkan di atas lukisan yang sudah dibungkus plastik. Kolase dino bisa dipindah-pindah posisinya sesuai dengan cerita yang diinginkan oleh anak-anak.


Anak-anak bisa memainkan kolase dinonya di dinding. Kolase dino bisa diganti dengan gambar atau tema lainnya sesuai dengan minat anak.

Yuk, buat sendiri di rumah ;)

16.2.14

Buat Mainanmu Sendiri

Memiliki mainan bagi anak-anak adalah wajib. Sama wajibnya seperti memiliki buku cerita menarik. Tapi bagaimana mendapatkan mainan yang sekaligus mengembangkan beberapa hal penting dan bukan hanya sekedar 'fun'? Kalau beli, seringkali harganya sangat mahal...

Aku mendapat ide dari permainan yang dulu sewaktu kecil sering kumainkan, ular tangga. Kemudian aku berniat membuat ular tangga berkolaborasi dengan anak-anak kelas Bumi. Karena angka 1-20 ditulis dari atas ke bawah, ular tangga ini kemudian diubah menjadi perosotan tangga. Dadu menggunakan kemasan biskuit bekas yang berbentuk kubus dan di setiap sisinya bergambar biskuit sejumlah 1-6.

Permainan ini cukup banyak membantu perkembangan pada anak, khususnya usia 4 tahun keatas. Anak-anak belajar memahami aturan sederhana permainan, bermain bersama, kerjasama, dan bergiliran. Mereka juga belajar tentang angka, penjumlahan sederhana, pemahaman posisi, maju-mundur, dan sebagainya. Mereka bisa menggunakan mainan miniatur atau membuat gambar dan kolase sendiri untuk dijadikan sebagai 'kojo' nya.

Ternyata, menbuat mainan sendiri menjadikan permainan itu lebih bermakna bagi anak-anak.

Penampakan permainan 'Perosotan ular'.

Aku menguji coba permainan, sebelum dimainkan oleh anak-anak.

Anak-anak kelas Bumi mencoba memainkan mainan baru mereka.

9 Februari 2013 - 9 Februari 2014

Tulisan ini memang sedikit terlambat. Tapi tentu tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah doa yang baik kan...

Tepat setahun lebih sepekan yang lalu, di Bandung terbentuk suatu komunitas perpanjangan dari komunitas yang sudah ada lebih dulu di Jakarta dan sekitarnya. Nebengers Bandung lahir secara resmi pada tanggal 9 Februari 2013, dilahirkan langsung oleh para founder yang memiliki ide brilian tentang berbagi kursi kosong kendaraan untuk mengatasi kemacetan. Disaksikan beberapa teman warga Nebengers Bandung dan juga teman-teman dari Jakarta yang menyempatkan hadir. Dan saat itu, aku yang memulai menjadi 'lurah' pertama di Nebengers Bandung. Kalau saja saat itu teman-teman yang datang lebih banyak, mungkin akan lebih banyak pilihan 'lurah' yang lainnya. Tapi akhirnya aku menjalani peran sebagai 'lurah' dengan misi mengenalkan komunitas ini serta menggerakkan manusia-manusia di Bandung agar mau menjadi bagian dari solusi sebuah masalah kemacetan. Ternyata tidak mudah ya...


Puput, Andreas, Mbak Putri Sentanu dan aku.

Sebelum benar-benar resmi, sebenarnya beberapa teman di Bandung yang mulai jengah dengan kemacetan, sudah pernah bertemu. Salah satu pertemuan sebelum Nebengers Bandung resmi lahir, hanya dihadiri 6 orang termasuk aku. Pada pertemuan itu, kami bertekad untuk mengajak lebih banyak teman lainnya. Dan pada hari itu, aku pertama kali memberi tebengan pada orang asing. Nadia adalah penebeng pertamaku yang janjian via twitter.


Pertemuanku yang bertama bareng teman-teman Nebengers Bandung.

Selanjutnya, banyak hal yang aku alami bersama dengan Nebengers Bandung. Aku dan teman-teman berusaha untuk mengenalkan Nebengers dengan berbagai cara. Dan tawaran wawancara dengan beberapa stasiun radio pun berdatangan. Tiap kali selesai siaran, kami mendapatkan tambahan warga baru, dan sepertinya saat itu publikasi lewat radio adalah cara yang cukup efektif.

Dua publikasi di awal Nebengers Bandung berdiri. Sindo Radio dan Global Radio.

Setelah warga bertambah banyak, Nebengers Bandung menambah intensitas meet up tidak resminya untuk sekedar sebagai ajang berkenalan sesama warganya. Semakin banyak warga yang bergabung, kemudian mulai direncanakan acara kopdar yang lebih besar dan terbuka bagi seluruh warga Nebengers di mana pun berada. Di setiap acara, selalu ada misi untuk mendorong teman-teman posting rute memberi dan mencari tebengan dalam aktivitas sehari-harinya. Salah satunya adalah mengadakan kuis tweet pic nebeng yang berhadiah voucher makan ramen serta buka puasa bersama. Selain itu, Nebengers Bandung juga mengadakan acara piknik dengan game nebeng yang hadiahnya banyak banget.

Beberapa kumpul hore dadakan selepas jam kerja.

Beberapa pemenang kuis. Selengkapnya bisa dibaca ceritanya dengan klik di sini.

Acara #NebengNostalgia dengan berbagai games nebeng dan hadiah.

Nebengers sudah semakin meluas, komunitas ini kemudian mendapatkan undangan untuk hadir dalam 'Obrolan Langsat' bersama dengan Bapak Wakil Menteri Perhubungan. Pada kesempatan ini pula, aku bisa hadir dan berkenalan dengan hampir semua 'lurah' distrik lainnya di Jakarta dan sekitarnya. Berbagi cerita tentang kondisi wilayahnya masing-masing dan berbagi ide tentang cara mengenalkan komunitas ini pada masyarakat. 

Aku, founder, dan para 'lurah' Nebengers.

Pada Oktober 2013, aku menyatakan mundur dari status 'lurah' Bandung, dengan berbagai latar belakang kepadatan kegiatan lain dan persiapanku menikah sebulan kemudian. Pemilu kemudian diadakan di komunitas ini, dan terpilih Kang Utush sebagai 'lurah' selanjutnya yang membuat Nebengers Bandung semakin besar. Terima kasih banyak ya teman-teman, sudah memberi banyak pengalaman. Terima kasih juga bingkisan mungilnya yang mampu membuatku menangis haru.

Serah terima jabatan 'lurah'.

Aku dan bingkisan bertuliskan namaku. Aku nangis.

Perlu disadari bahwa semakin hari komunitas ini semakin besar dalam jumlah warganya. Namun tujuan Nebengers adalah menggerakkan manusia untuk bersedia berbagi kursi kosong kendaraannya bukan hanya sekedar mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya. Jadi, yuk sama-sama perangi kemacetan dengan berbagi kendaraan. Jika masih ragu, setidaknya jangan menambah masalah dengan pelit saat berkendara, silakan gunakan angkutan umum saja. Atau beri tebengan pada tetangga atau teman kerja/kuliah terlebih dulu sebelum kamu beri tebengan pada manusia asing. Gabung dengan Nebengers, untuk menjadikan manusia-manusia asing di dalamnya sebagai keluarga.

Jika belum mampu menjadi solusi dari suatu masalah, setidaknya jangan pernah menjadi penyebab masalah.

Selamat ulang tahun yang pertama Nebengers Bandung. Semoga semakin menjadi pilihan solusi dalam mengatasi masalah kemacetan di Bandung tercinta.