29.6.11

Pertemuan, Perjalanan, Perpisahan

Kemarin baru aku tersadar, atau mungkin lebih tepatnya tertampar. Ketika perpisahan sudah benar-benar ada di hadapan mata. Dalam perjalanan liburan ke Pangandaran bersama sebagian besar teman-teman kerja, pada saat yang sama perpisahan dengan beberapa teman juga harus dilewati. Ya Tuhan, terlambatkah aku sadar? Kenapa beberapa hari sebelumnya hanya hal kurang penting yang aku pikirkan?


Aku jadi mengingat proses sebuah pertemuan. Kira-kira 5 tahun yang lalu, aku mendapat panggilan untuk tes mengajar di sekolah tempatku sekarang. Aku disambut oleh sesosok guru ramah, keibuan yang mengenalkan dirinya sebagai ibu Wini, guru kelas Bulan. Singkat cerita, mungkin dulu keputusan aku bisa diterima mengajar di tempat itu adalah berkat penilaiannya juga. Padahal dulu, aku pun tidak sadar aku sedang mengajar karena anak-anak disana asyik diajak bermain. Jadi waktu itu aku rasanya hanya main. Itu pikiranku dulu.


Dalam perjalananku selama 5 tahun mengajar, aku banyak belajar dan banyak mengambil pelajaran. Banyak sosok teman-teman guru yang memiliki sisi kreatif yang sangat membuatku takjub. Ibu Wini salah satunya. Hal apapun ia ketahui, dari mulai dimana tempat membeli laher (roda kecil terbuat dari besi) hingga bagaimana caranya membuat kostum lengkap dengan make up karakter ala teater. Entah dari mana ia belajar, tapi menurut pengakuannya ia sering ngobrol dengan orang-orang di angkot sehingga ia tahu dimana menemukan tempat-tempat dan barang-barang yang dibutuhkannya. Tapi mungkin hanya ia dan Tuhan yang tahu, berasal dari mana bakatnya membuat kostum-kostum unik yang mampu membuat orang-orang berdecak kagum.


Acara liburan ke Pangandaran kemarin sekaligus juga sebagai pengantar perpisahan dengan beberapa teman, salah satunya ibu Wini. Ia memutuskan untuk akhirnya berhenti setelah hampir 10 tahun mengajar. Dengan pertimbangan, ia akan lebih fokus pada pendidikan anak-anaknya yang mulai beranjak remaja. Pada awal aku mendengar keputusannya, sejujurnya aku sangat mendukung. Jelas keluarga lebih penting di atas segalanya. Berhenti mengajar di sana bukan berarti berhenti menjadi guru. Aku sangat meyakini itu. Tapi perasaan itu berubah seketika menjelang benar-benar perpisahan itu terjadi. Aku tahu, aku masih bisa bertemu dengannya kapan pun. Dia tidak kemana-mana, hanya berhenti mengajar di sana, itu saja. Tapi rasanya, aku seperti kehilangan sosok guru sebenar-benarnya, kehilangan sosok ibu di dalam tim kerjasama.


Pada akhir acara liburan kemarin, tiba-tiba dadaku sesak. Ingin menangis rasanya. Aku yang tidak mau dan biasanya anti menangis di hadapan banyak orang, hari itu tidak berdaya menahan tangis. Kuambil kaca mata hitam, kupakai bukan untuk bergaya. Aku tidak mau orang-orang melihatku menangis walau mereka pasti mendengarku menangis, bukan hanya terisak. Satu persatu kupeluk teman-temanku yang akan mengakhiri tugasnya mengajar di tempat itu. Dan akhirnya sampai kupeluk ibu Wini dengan erat, aku menumpahkan perasaan dan pikiranku, "Aku benar-benar merasa kehilanganmu, bu..." dan ia pun memelukku lebih erat. Entah apa pikiranku saat itu. Aku hanya merasa akan berpisah dengan seorang teman seperti aku akan berpisah dengan sosok seorang ibu.


Ah, doaku selalu mengiringimu teman. Semoga Tuhan selalu menggenggam tanganmu ketika melangkah dan memelukmu untuk melindungimu selalu. Aku pasti sangat merindukanmu. Semoga aku bisa hebat sepertimu.



Ibu Wini, berbaju merah. Tetap tersenyum ketika kepala sekolah menangis melepas 'kepergian' teman-teman.

Sebenarnya, aku ingin meng-upload beberapa foto karya ibu Wini. Tapi mungkin nanti. Sekarang aku masih sedikit sendu rasanya.

Foto diambil dari akun Facebook Lia Marlia atas seijin pemilik akun.

2 comments:

Agaga Dewangga said...

mudah2an di petualangan berikutnya kamu lebih kuat, perpisahan sekarang kan bukan berarti berpisah juga tali silahturahmi, in everything you'll left a past...ganbatte sist

hotarukika said...

iya sih itu pasti.... hanya kemarin itu bener2 ngerasa kehilangan yg amat sangat.